Mengkonsumsi makanan organik sepertinya menjadi tren beberapa tahun belakangan ini. Ini sebenarnya tren yang bagus bukan? Karena makanan organik ini identik dengan makanan yang sehat, artinya akan semakin banyak orang yang sehat pula. Pun di supermarket sudah banyak dijumpai berbagai pilihan sayuran organik, sampai telur juga ada yang organik. Terus ada keripik organik, trus juga makanan lain tiba-tiba dikasih label organik. Jujur saja sih saya jadi bingung tentang definisi “organik” itu sendiri. Kalau sayuran organik, menanamnya tidak pakai pupuk kimia, bagaimana dengan keripik organik? Apakah kentang organik ketika sudah digoreng masih bisa disebut organik?
Anyway, di Jogja ini restoran dengan bahan organik tampaknya masih timbul tenggelam. Mungkin, ini mungkin lho ya (saya nggak punya data ilmiah), selain masih kurang informasi apa itu “organik”, dan lalu harganya yang biasanya lebih mahal dari makanan biasa, juga rasa masakan yang belum tentu enak.
Bulan Juni kemarin pas mbak Ambar ke Jogja, Arya dan Indie ngajakin ke resto baru. Namanya Amboja Herb Garden Resto. Yup ini adalah resto organik yang pertama saya kunjungi. Berlokasi di daerah Pakem, tepatnya Jl. Kaliurang Km. 18,7 restoran ini dikelilingi kebun dan sawah yang hijau. Tempatnya nyaman sekali sih, ada dua lantai tanpa dinding tinggi jadi kita bisa leluasa menikmati angin dan pemandangan di sekitar kaki Merapi. Material bangunan hampir seluruhnya dari bambu. Termasuk toiletnya lho pakai bambu-bambu gitu, awalnya sih agak kuatir kalau bisa diintip dari luar ternyata nggak kok, tertutup rapat. Hahaha
Kedua foto diatas diambil dari Facebook page Amboja.
Waktu itu saya memesan nasi hitam, alasannya karena ingin merasakan yang paling unik dari resto ini. Lalu minumnya “Jus Kaliurang” keterangan di menu listnya adalah jus nanas dan apel yang dipadu dengan daun mint dan kayu manis. Menu yang lain saya nggak begitu ingat karena pesen rame-rame, yang jelas ada sup Amboja (sup ayam dan udang), cumi, sayur apa gitu, ikan juga kalau nggak salah, macem-macem pokoknya. Oh ya kita juga dapat welcome drink wedhang secang teh rosella yang unik rasanya.
Jus Kaliurang yang saya pesan seharga Rp 12.000 ternyata enak sekali. Cocok sekali waktu itu udara panas dan sedang haus-hausnya, jusnya light, manisnya pas dan seger karena ada mintnya. Saya sempat mencoba jus Amboja yang di pesan mbak Nanis, rasanya juga enak, tapi lebih berserat dan nggak sesegar jus Kaliurang.
Soup Amboja rasanya juga nikmat, bumbu-bumbu rempahnya terasa sekali. Menu yang lain rasanya tak terlalu istimewa, hanya saja ada yang tak sanggup saya makan sampai habis yaitu nasi hitam. Hahaha… ternyata nasi hitam itu lebih berasa seperti ketan, jadinya agak aneh kalau dimakan dengan sayuran dan sup. Tentu saja ini karena saya tak biasa makan nasi hitam, mungkin kalau yang sudah terbiasa ya nggak ada masalah.



Amboja Herb Garden Resto
Jl. Kaliurang km.18,7
Yogyakarta, Indonesia, 55582
Telepon: +62274895490
Sen – Jum: 12:00 – 20:00
Sab – Min: 11:00 – 21:00
note:
foto-foto pribadi diambil dari album foto Facebook mbak Ambar, mbak minta ijin tak publish di sini ya hihihi…
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.















Wew, lama nggak update akhirnya update juga
Pakabar La?
Aku slalu suka membaca postingan dari siapapun tentang Jogja, utamanya setelah aku nggak tinggal di situ lagi
*nyatet nama rumah makannya, siap dikunjungi pas mudik nanti.. semoga masih buka:p*
Hai… salam kenal, saya suka ulasannya jujur dan lugas hehehe… btw ralat dikit tuh, welcome drink nya teh rosella tu, bukan secang
@DV haha thank you Don masih sempat aja baca blogku, apa kabar juga? iya ini lama gak update wes ra pati keurus gini… ada komentar aku juga gak dapet notifikasi pula, payah niy!!
@aryow salam kenal juga, makasih mas aryow… iya ya teh rosella… agak lupa sih hahaha… kok bisa tahu? ada hubungan dengan Amboja? atau sering makan di sana? Menu favoritnya apa?
Haha lala, kamu dibayar berapa buat promosi restoran ini? Hieahiehaiheia, gak gak. Memang kayaknya kok damai luar dalem ya restonya. Makanan-nya organik, tapi piringnya kok nggak ya? Harusnya pake daon pisang semua tuh, huehehe.
@Lala
ayo ditunggu jalan2 ke amboja lagi…. ada menu2 baru lho
ya tau.. lha wong yang bikin aku.. hehehe
Mampir ^_^
sekedar info, biasanya petani organik punya semacam lembaga atau organisasi yang biasanya punya standar tersendiri mengenai keorganikan mereka… jadi standar bisa bermacam-macam bergantung organisasinya.
Umunya sih memang karena tidak menggunakan pestisida atau pupuk sintesis…
orang kadang suka salah kaparah menyebutkan yang organik itu tanpa bahan kimia, padahal semua makanan dan isi dari dunia ini adalah bahan kimia, iya kan? hehhehe, yang bener alami atau sintesis…
salam kenal ya kak, blognya cantik
Bangunan dan makananya keren.
Jadi laper neh. Bagus juga postingannya. Oya, balik mampir ke situsku donk. Kasih komen jg ya. thx b4.