Aku bertemunya dengannya sehari sebelum kematiannya.
Ibu muda yang terlambat mengetahui penyakitnya sebagai salah satu penyakit mematikan, HIV AIDS.
“Dari tadi tidur terus itu mbak, dibangunin saja …” Sang suami memegang tangan istrinya yang tidur melengkung dan keliatan ringkih, membisikkan sesuatu. Sepertinya memberitahukan kehadiranku.
Ada foto pengantin di atas tempat tidur itu, pasangan bahagia. Kedua pengantin memakai busana warna putih, jas untuk pengantin lelaki dan kebaya serta jilbab putih dipakai pengantin perempuan. Pengantin lelakinya jelas tidak banyak berubah, sedikit lebih kurus itu saja. Tapi sungguh benar-benar tak bisa dipercaya, pengantin perempuan adalah yang sedang sekarat di tempat tidur, tanpa daya.
Tubuhnya kurus kering, pipinya tirus, warna kulitnya tak lagi segar, pucat dan mengkerut. Matanya memandang kosong, bibir dan lidah yang kering itu pun seperti ditumbuhi jamur atau entah apa. Mengerikan.
Sang suami selalu menemaninya, siaga 24 jam, meninggalkan pekerjaannya demi sang istri. “Alhamdulillah saya dan anak tidak tertular mbak,” aku tertegun… mungkin kah? Ya Allah yang maha kuasa, tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. “Saya sudah cek ke rumah sakit tiga kali.”
“Terapi ARV untuk ibu jalan kan pak?”
“Ya .. mungkin sudah agak terlambat mbak, mestinya kalau dari awal sudah dideteksi, mungkin…” matanya berkaca-kaca. Aku mengutuk pertanyaanku tadi.
“Makan saja menderita sekali kelihatannya, kadang dipanggil juga sudah tidak responsif lagi mbak, kemarin tiba-tiba juga kejang… dokternya bilang harus cek ke dokter saraf. Ini sedang menunggu dokternya. Yang membuat saya selalu kuat itu anak kami satu-satunya, kelas 2 SD.”
Lalu giliran mataku terasa panas dan mulai berair. Aku hanya bisa menunduk menyembunyikan haruku.
“Habis tak ada yang mengira. Sejak pertama Malaria, lalu katanya Hepatitis, lalu entah apa lagi, sakit lambung, kelenjar di lehernya yang bengkak, lalu sering berhalusinasi yang aneh-aneh… dan tiba-tiba kami harus terima kenyataan penyakitnya yang sebenarnya… dan sudah terlambat, karena ini sudah tahap AIDS, sudah…” lalu helaan nafas, dan mata yang kembali berkaca-kaca. Di tangannya ada buku kecil yang dibuka-buka tak menentu, buku kecil yang baru kusadari adalah buku yang berisi bacaan Yasin.
Lalu dokter saraf dan asistennya datang, bersalaman dengan kami. Sang asisten mencoba mendekati perempuan itu, memanggil-manggil namanya, memeriksa matanya, memukul bagian bawah lutut dengan alat khusus.
Aku pamit meninggalkan mereka.
Esok harinya, pagi buta sms berita kematian itu masuk ke handphoneku.
Aku merinding.
Note:
Please take an action. Take a Leadership Pledge.
Hari AIDS Sedunia diperingati tiap tanggal 1 Desember. Tema tahun ini adalah Leadership (Kepemimpinan). I’ve take a pledge.
Penyakit AIDS ini beneran nggak main-main, dan siapapun bisa terkena penyakit ini, jangan pernah berpikir bahwa ini masih jauh, sama sekali enggak… tapi benar-benar ada di sekitar kita. Mungkin bahkan di tempat yang paling dekat sama sekali tak terbayangkan. Cari tahu sebanyak-banyaknya tentang AIDS, karena pengetahuan adalah perlindungan paling dini.
Link web terkait












asl…mbak..salam kenal…..saya baca postingannya….merinding gw mbak….mudah2an kita kembali kejalan-NYA,karna itulah jalan satu2nya……
tinggalkan jejak.. lalu segera ke kamar mandi cuci muka. .
sebelum air mata menetes .. .
hix hix hix. . .
merinding deh
AIDS memang penyakita yang belum ada obatnya sampai sekarang, tetapi bukanlah hal yang mengerikan. Menurutku penyakit yang pailng mengerikan saat ini adalah Flu Burung, karena terlambat sedikit saja sudah hilang nyawa. Sedangkan HIV/AIDS sendiri prosesnya masih dalam hitungan tahun dan masih ada obat yang bisa menahan perkembangan virus HIV ini. So, kenali sejak dini dan antisipasilah tapi jangan pernah meninggalkan ODHA karena mereka juga sama dengan kita.
Salam kenal 