Sebenarnya bulan ini saya juga sudah selesai membaca Harry Potter and The Deathly Hallows (thanks to Rama), tapi berhubung ini bulan Agustus, Kembang Jepun jelas lebih pas untuk di-review.
Kembang Jepun, novel Remy Sylado ini berlatar perjuangan bangsa Indonesia dari masa penjajahan Belanda, Jepang, dan bahkan paska proklamasi kemerdekaan. Meskipun tema utamanya adalah cinta, namun juga didukung dengan data-data faktual, data-data sejarah. Tak hanya data tentang Indonesia saja, tapi juga tentang budaya Jepang, termasuk nyanyian dan syair karya pendeta Shinto pun ada di novel ini.
Adalah Keke, gadis kecil dari Manado, yang dijual oleh kakaknya kepada seorang pengusaha Jepang di Surabaya untuk dijadikan geisha. Pengusaha ini bernama Kotaro Takamura, mengalami kesulitan dengan bisnisnya karena pada tahun 1929 itu selain karena perekonomian dunia memang sedang goyah (zaman Maleise), juga dikarenakan sejak tahun 1926 (pemerintahan Taisho) di Jepang mulai diberlakukan undang-undang perdata yang salah satunya melarang perzinaan, sehingga tak mungkin mendatangkan geisha asli dari Jepang. Sedangkan para geisha di Shinju (nama rumah toko yang didirikan Kotaro) di Jl. Kembang Jepun Surabaya itu sudah mulai menua. Perempuan Manado yang terkenal berkulit putih bersih dan bermata sipit lah yang menjadi ?pengganti? geisha asli. Keke dididik menjadi sebenar-benar wanita Jepang, bernama Keiko. Menjadi wanita Jepang, tak hanya dengan memakai kimono dan bisa menulis kanji. Namun benar-benar menjiwai budaya, cara berpikir, dan bahwasanya geisha adalah pekerjaan yang mempunyai martabat tinggi dan membanggakan.
Keke jatuh cinta pada Tjak Broto, wartawan yang nasionalis, wartawan yang meliput pembukaan Shinju, wartawan yang diperawani (atau diperjakai?) Keke, dan selanjutnya sering berkunjung ke Shinju demi bertemu Keke. Tjak Broto mencintai Keke, mengajaknya menikah, hanya saja menikah seperti jauh dari pikiran seorang Keke, yang membagi tubuhnya untuk banyak lelaki. Hanya saja ketika Tjak Broto dikurung di penjara Kalisosok karena tulisannya dianggap menghasut, sadarlah Keke betapa dia merindukan Tjak Broto, betapa itu adalah cinta. Setelah menahan tidak bertemu selama setahun (Tjak Broto dihukum 5 tahun), Keke akhirnya bertekad menemuinya di penjara.
Ini adalah potongan percakapan mereka. Tjak Broto yang pertama kali mengungkapkan perasaannya.
“Saya kira diri saya sudah berubah jadi arca, dipancung putus, tidak mancurkan darah.â€
“Sama,†kata saya.
Ia kurangi latar senyum di wajahnya. Pikirannya dirangsang sukacita. Namun ia menawar. “Betul?â€
Cepat saya mengangguk. Sebab saya yakin betul isi hati sendiri. “Ya,†kata saya. Kejujuran seperti ini memang langka.
Bab Sembilan (halaman 94)
Yup, novel ini bercerita dari sudut pandang Keke. Saya dalam percakapan diatas adalah Keke.
Perjuangan Tjak Broto ketika jaman Jepang juga sangat menyentuh. Saya lebih tersentuh justru ketika Tjak Broto ikut rombongan ludruk. Tjak Broto disadarkan bahwa berjuang melawan penjajah tidak hanya dengan mengangkat senjata tapi dengan alat dan jalan apapun, lewat tulisan atau juga lewat kesenian seperti ludruk dan bagaimana Tjak Broto sadar bahwa ini perjuangan bangsa, bukan perjuangan orang per-orang.
Sejak jaman penjajahan Jepang sampai kemudian Indonesia merdeka, dan memasuki orde baru, Tjak Broto dan Keke terpisah. Keke diangkut ke Jepang dan Tjak Broto ke Bandung mulai hidup baru lagi.
Saya memang bukan penggemar tulisan Remy Sylado, namun saya mengagumi cara beliau menulis dengan fakta. Tjak Broto tidak diceritakan sebagai manusia yang selalu berada di daerah putih, tapi juga abu-abu, dan mungkin hitam. Saya memang tak suka ketika di masa orde baru Tjak Broto juga terbawa arus saat itu, dari PNI yang diusung Soekarno dan pindah menjadi jurkam Golkar.
Di usia sangat matang ini, ia menyadari sesuatu yang tidak pernah diamati sebelumnya, bahwa menjadi oposan atau melawan pemerintah yang mengatur sistem nilai menjadi suatu moralitas statistik, adalah juga berarti melawan modal.
Bab Dua Puluh (Enam halaman 293)
Secara tak langsung mengisyaratkan bahwa Tjak Broto masuk Golkar karena masalah modal saja. Tapi justru disini sangat menarik, yang saya bilang tadi menulis dengan fakta, bahwa pada saat itu pikiran kebanyakan orang mungkin tak jauh beda dengan Tjak Broto. Dan lalu bagaimana Remy Sylado bisa menjadikan Tjak Broto kaya raya, mengendarai Mercedes Benz, dan memakai Rolex, sebagai pengusaha angkutan umum di Surabaya.
Satu-satunya yang menggangu pikiran saya adalah tentang betapa seringnya Keke mendapat perlakuan tidak benar dari laki-laki. Entah berapa kali Keke diperkosa Jepang ketika ingin membebaskan Tjak Broto hingga kemudian dijadikan tawanan dan diangkut ke Jepang, kemudian ketika berusaha pulang ke Manado dijadikan tawanan dan diperkosa bergiliran oleh tentara Permesta, bukan hanya sehari tapi berminggu-minggu. Apakah memang benar jaman dahulu seperti itu, karena ini Remy Sylado yang menulis kemungkinan juga berdasar suatu fakta. Tapi entah kenapa kok buat saya terlalu banyak adegan perkosaan sebagai sebuah novel. Hingga kelelahan sendiri dan benar-benar tak terbayang lagi.
Secara keseluruhan, novel ini cukup bagus. Gabungan data-data faktual yang mengesankan dan cerita cinta yang mengharukan, sebuah pembelajaran sekaligus hiburan. Meskipun sebenarnya sedikit dibawah harapan saya (sepertinya saya tetap lebih suka Umar Kayam atau Pram, untuk cerita sejenis ini) tapi ini adalah bacaan yang tepat di bulan Agustus, bisa mengingatkan lagi bagaimana perjuangan para pahlawan kita, betapa banyak yang dikorbankan, dan betapa kita harus mensyukuri lepasnya penjajahan ketika itu.
Tulisan ini mestinya di publish tanggal 17 kemarin, tapi rasanya belum terlalu terlambat juga. Dirgahayu Indonesia.
- Larasati...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.












Lala, itu lokasi deket rumahku lho…kalo malem jl. kembang jepun jadi tempat makan namanya Kia-Kia… itu komplek pecinan di surabaya…(secara aku juga cino jd tau..huueehuuee)
aku malah ikut ngoceh.
Nah kalo penjara kalisosok sekarang sudah tak ado lagi..sudah dijadiin House of sampoerna.
jalan ceritanya mirip sama the memoir of Geisha …
spt yg ter inspirasi dr cerita itu
@cenik_01 : waa iya ya mbak… kayak chinatown-nya Surabaya gitu ya?? Kia kia itu artinya jalan-jalan bukan?
@Vanes : ummh bisa jadi gitu juga ya, tapi sejujurnya malah aku pertama baca mengharapkan akan dapet cerita semacam Memoir of Geisha, tapi ternyata banyak perbedaannya, menurutku titik beratnya adalah perjuangan bangsa. Meskipun geisha adalah produk Jepang, tapi karena Keke ini geisha jadi-jadian, konfliknya pun sangat Indonesia. Dan Keke sepertinya mengalami lebih banyak kekerasan (termasuk banyaknya acara perkosaan), dibanding Chiyo di Memoir of Geisha.
Penjara Kalisosok sampai sekarang masih ada. House of Sampoerna sendiri berada sekitar 50m dari Penjara tersebut. Jadi kalau mau visit ke Penjara Kalisosok :p dan ke House of Sampoerna bisa kok.
Tapi sayang,Kya Kya sekarang tambah sepi,gak berkembang..