Sejak minggu kemarin saya ikutan kursus yang diadakan IVAA (dulunya bernama Yayasan Seni Cemeti). Selain ganti nama, Yayasan Seni Cemeti rupanya juga merombak beberapa hal, diantaranya dibukanya studio untuk kursus. Ada dua kursus yang saat ini di selenggarakan yaitu AKSARA & IVAA HOBBY STUDIO. Aksara adalah kursus penulisan seni visual. Program bimbingan penulisan kritik seni rupa ini kini sudah memasuki angkatan V. Sedangkang IVAA Hobby Studio adalah kursus seni visual dan craft dengan tutor Pius Sigit Kuncoro.
Bisa tebak kursus mana yang saya ikutin? Hehe iya yang terakhir itu. Sebenarnya sih jujur saja saya lebih tertarik untuk bagian craft-nya, namun apa boleh buat sesi perdana ini tema kursusnya adalah menggambar anatomi. Saya ragu-ragu juga sebenarnya. Pertama, menggambar anatomi, menggambar orang dengan pensil bukan sesuatu yang saya benar-benar suka. Terlalu rumit buat saya, terlalu banyak garis, terlalu banyak arsiran, terlalu banyak aturan. Maksudnya gini, seringkali kalau melihat pameran lukisan, atau ke FKY deh ada pelukis yang sedang menggambar wajah cantik seorang perempuan dengan meniru dari foto, saya selalu terkagum-kagum. How he did it?? Kok bisa mirip dengan aslinya ya? It’s like beyond my ability. Tapi ya cuma itu, sebatas mikir kok bisa ya mirip, tanpa bisa benar-benar menikmati hasil lukisan itu. Apalagi sekarang dimana yang tiap hari saya nikmati adalah digital art, menggambar dengan pensil kedengerannya so last year banget. Dan itulah alasan kedua saya kenapa ragu, sudah bertahun-tahun nggak pernah make tangan untuk megang pensil. Bisa-bisa saya jadi bahan ledekan di tempat kursus, karena tangan saya yang kaku bak kayu.

Terlepas dari semua itu, tetep saja saya pikir pasti ada manfaatnya buat saya. Pasti banyak hal yang bisa saya ambil. Dari pertemuan pertama minggu kemarin, saya belajar untuk bersabar, belajar untuk memperhatikan detail, belajar untuk melihat tangan saya lebih dekat, mencoba menggambar tangan saya sebagai tiga dimensi. Hasilnya bisa diduga terlalu flat dan kurang berani, begitu kata tutor saya, namun cukup bagus dengan proporsinya mengingat kemarin itu tak ada secuil penghapus pun yang bisa dipake. Ooowh ya maafkan fotonya jelek sekali, cuma pake kamera handphone.
Satu hal yang mengganggu sekali dipikiran saya, karena kebiasaan pake program komputer walhasil saya lebih berpikir mencari “undo button” daripada penghapus tiap kali ada yang mau saya rubah. Aaahh saya harus banyak menyesuaikan diri.
Ohya selain kursus tersebut, di IVAA juga banyak kegiatan lain seperti pemutaran film tentang seni, bahkan ada warung dan perpus yang dilengkapi hotspot, dan juga potong rambut di bawah pohon rindang :p jangan salah yang memotong juga seniman lho. Suasananya cukup nyaman dan santai, bahkan studio tempat saya kursus menggambar juga cukup sederhana. Ruangan yang tidak terlalu luas, dinding yang dipenuhi hasil karya seni, meja kotak di tengah, dan beberapa kursi mengelilingi. Saking santainya bahkan kemarin itu saya melihat beberapa gantungan baju lengkap dengan beberapa kaos oblong yang menggantung di sana ahahha nggak tau deh itu termasuk hasil karya seni atau bukan.
Selain itu ternyata IVAA juga membuka diri dengan menerima komunitas lain yang ingin mengadakan kegiatan di sana, memanfaatkan tempat secara gratis. Wah kok saya jadi mempromosikan IVAA… Anyway wish me luck untuk kursus pertemuan kedua nanti sore yah.












Eh, di kertas gambarnya dikasih saja itu button-button… ada Undo, Redo… termasuk option History..
Wah asyik tuh, gak bisa ngehang :p
Kalo bingung, copy paste aja la
halo la, lama gak ketemu.
eh, kok gak ketemu ya?
aku kemaren dateng di ri-club nya IVAA juga
duwh, cinila ini makin aneh2 aja kegiatannya…
sampe ikut sanggar segala
sukses deh yaaaa
piye kabare?