Wah ternyata akhir-akhir ini sering banget posting tentang film, hehehe tadinya aku mo nulis tentang Harry Potter and the Order of the Phoenix, but I think it’s a book time… Ini postingan lama, tetapi sempat hilang sewaktu database blog juga hilang tahun kemarin, I just want to re-post this one, and maybe more “old post” later.
Novel karangan Fumio Niwa dan ditranslasikan dalam bahasa english (yang lumayan susah buad saya) oleh Kenneth Strong. Tapi worth it buat dibaca.
Ceritanya tentang seorang pendeta Budha bernama Shosu Getsudo. Dimana sebagai pendeta dia merasa bertanggungjawab atas nama baik kuil dan juga anggota jemaahnya. Tapi sebagai manusia biasa yang punya banyak kelemahan, dia tak lepas dari dosa, dan dosa sang pendeta ini sudah menjadi kebiasaan selama dua puluh tahun. Dosa itu adalah beban yang tak tertanggungkan lagi olehnya. Adalah Mineyo, ibu mertua namun berperan sebagai “istri” baginya. Sementara Renko putri Mineyo, istri resmi pendeta Shosu, lama kelamaan menyadari adanya affair antara ibu dan suaminya, akhirnya tak tahan dan keluar dari lingkungan kuil. Anak mereka Ryokun terlalu kecil dan tidak mengerti kenapa ibunya mesti pergi dari kuil. Hanya Mineyo yang merasa senang, karena selama ini dia merasa bersaing dengan Renko atas Shosu.
Pendeta Shosu sendiri merasakan benci yang sangat pada dirinya sendiri. Apalagi ketika akhirnya dia benar-benar merasakan jatuh cinta kepada Tomoko, perempuan simpanan salah satu anggota jemaahnya, yang notabene adalah anggota jemaahnya pula.
Ceritanya emang complicated tapi asyik juga, bikin kita nggak berhenti baca. Bagaimana akhirnya Shosu keluar dari permasalahannya, membebaskan diri dari Mineyo. Ironisme bahwa Tomoko, perempuan cantik, yang dicintai Shosu,orang yang mengilhaminya untuk membebaskan diri, adalah simpanan Yamaji anggota jemaah yang paling berpengaruh, donatur terbesar kuilnya.
Di dalam novel ini diceritakan betapa tak ada orang yang luput dari dosa, tak ada orang yang baik dan baik terus, dan jahat akan jahat terus, akhirnya semua orang punya dosa sendiri-sendiri yang membedakan adalah apakah mereka menyadarinya ataukah tidak dan bagaimana mereka membuat perubahan setelahnya.












Wah secara saya lama ndak baca baca