Cinila’s Personal Playground - the bloody journal

Kitab Para Pembunuh

The CitRAkhirnya selesai juga baca novel satu ini, The Catcher in the Rye. Novel yang diterbitkan pertama kali di US tahun 1951 dan menuang banyak kontroversi, karena isinya yang penuh sindiran, kata-kata kasar, gaya hidup yang dianggap tidak mendidik (sex bebas dan mabuk-mabukan dibawah umur juga prostitusi). Bahkan sempat di banned di Amerika sana, kebayang dunk kalo sampe negara yang konon menjunjung tinggi kebebasan berekspresi itu sampe nge-banned buku ini. Daan gara-gara beberapa pembunuh orang-orang terkenal dalam sejarah terbukti terobsesi dengan buku ini, bahkan Mark David Chapman meminta tanda tangan John Lennon di buku ini sebelum menembaknya beberapa jam kemudian, lalu novel ini sering disebut kitab para pembunuh. Wiiih syeyeemmm…

Anyway, sebenernya pas dapet kiriman buku ini, aku rada-rada ilfeel liad cover bukunya padahal kualitas kertasnya bagus lho (maaf lho om Yusi, habis gimana ya :P)… iya sih kata orang don’t judge book by it’s cover… tapi ya tetep aja… dan akibatnya meskipun baca nya udah start agak lama (berbulan-bulan yang lalu), baru kemarin justru ketika pergi ke Surabaya bisa selesaiin buku ini. Eh tapi cover yang ada di sebelah ini cover buku aslinya tahun 1951, bukan yang baru aku baca.

Entah kenapa rasanya jika kita bisa membaca novel aslinya yang berbahasa Inggris kesan suramnya bakal lebih terasa, karena novel ini penuh dengan makian yang yakin deh susah nerjemahinnya ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya gimana kita harus menterjamahkan kata “goddam” atau “fuck” ke dalam bahasa Indonesia. (Duuh moga-moga nggak mengundang spammer neh). Seperti kalimat ini misalnya.

I hope to hell when I do die somebody has enough sense to just dump me in the river or something. Anything except sticking me in a goddam cemetery.

Dan bandingkan terjemahannya dalam buku versi Indonesia, halaman 221 seperti ini

Aku berharap setengah mati bahwa kalau sampai aku betulan mati nanti, mudah-mudahan semua orang berpikiran waras lantas menggelindingkan aku ke dalam sungai atau apalah. Apa pun kecuali menguruk tanah di atas jasadku.

Ya mungkin terjemahannya sudah maksimal ya, entahlah tapi akan sangat membantu kalo kita bisa membayangkan text aslinya dalam bahasa Inggris. Bisa lebih dapet feel-nya gitu…

Ohya ceritanya sendiri tentang seorang cowok bernama Holden Caulfield, berusia 16 tahun, sering dikeluarkan sekolahnya dan ceritanya berawal ketika dia dikeluarkan dari Pencey Prep (sekolahan kesekian yang akhirnya juga mengeluarkannya) karena tidak lulus dalam hampir semua mata pelajaran kecuali Bahasa Inggris. Holden adalah narator di novel ini, semuanya dari sudut pandang dia. Holden sebenernya cukup pandai hanya saja kebenciannya pada hampir semua hal, membuatnya menjadi “gila” (karena toh di akhir cerita dituliskan bahwa dia menceritakan semuanya ketika sedang berada dalam perawatan psikoanalis) dia merasa adaa saja sesuatu yang bisa dicela dari setiap orang. Yang jerawatan lah, tukang ngupil lah, bermuka jeleklah, dia bisa mendeskripsikan kejelekan orang dan memberi banyak alasan untuk membenci orang itu. Holden juga sangat sinis tentang orang-orang yang suka menonton film, kegiatan yang mungkin “normal” untuk orang lain buat dia adalah sesuatu yang membuat dia sedih. Holden seperti orang yang penuh kekecewaan dengan dunia remajanya, kepalsuan dunia, hingga buatnya semua orang aneh, mestinya mereka yang menyesuaikan dengan pola pikirnya. Dan semua amarah itu sebenarnya hanya berkecamuk dalam hati dan pikirannya. Ketika dia berbicara dengan orang lain justru dia selalu berusaha menjawab dengan ramah. Iya dia sendiri sangat hipokrit.Satu yang masih menyenangkan buatnya adalah saat masih bersama bermain dengan saudara-saudaranya, Allie, D.B., dan juga Phoebe. Dan sepertinya yang membuatnya tidak karuan berawal ketika Allie meninggal. Bagaimana akhirnya Holden tidak menghadiri pemakamannya karena dia sendiri dirawat di rumah sakit. Tangannya luka berat karena meninju kaca rumahnya, dan dia sendiri tidak mengerti kenapa dia marah-marah sampe seperti itu ketika Allie meninggal.

Sepertinya sih itu menggambarkan bahwa Holden sebenarnya adalah anak yang peka, gampang tersentuh, dan emosional. Dia juga remaja biasa yang sangat sayang kepada saudaranya. Phoebe lah akhirnya yang membuatnya rela untuk pulang dan akhirnya menjalani perawatan. Padahal mula rencana dia adalah pergi jauh dan pura-pura bisu supaya tidak perlu ngobrol dengan orang lain. Dia akan menulis di kertas untuk berkomunikasi sampe akhirnya orang-orang capek menulis dan membiarkannya sendiri. Lucu ya… :)

Ohya ada beberapa baris yang saya tandai di buku saya. Entah kenapa justru di antara makian dan kemarahan itu saya menemukan beberapa kalimat yang bagus di buku ini. Contohnya paragraf terakhir novel ini… dan kayaknya ini kalimat yang paling terkenal dari novel ini.

Aneh juga. Jangan bercerita apa-apa pada orang lain. Begitu kalian bercerita, maka kalian akan mulai merasa merindukan orang lain. (Don’t ever tell anybody anything. If you do, you start missing everybody.)

atau yang ini

Just because they’re crazy about themself, they think you’re crazy about them too, and that you’re just dying to do them a favor.

atau jawaban Holden atas pertanyaan Pheobe, untuk menyebutkan satu hal saja yang disukainya, satu hal yang benar-benar ingin dia lakukan

What I have to do, I have to catch everybody if they start to go over the cliff— I mean if they’re running and they don’t look where they’re going I have to come out from somewhere and catch them. That’s all I’d do all day. I’d just be the catcher in the rye and all. I know it’s crazy, but that’s the only thing I’d really like to be. I know it’s crazy.

7 Responses to “Kitab Para Pembunuh”

  1. ods says:

    itu buku ada di gramedia or somewhere gitu gak ya? jadi tertarik nih..

  2. killy says:

    seru juga tuh kayaknya ;) … ternyata pembunuh punya kita juga …

  3. sridewa says:

    jangan salah terjemahan bisa jadi juga lebih bagus…
    goddamn=terkutukolehtuhan;

    ingat terjemahan petuwalangan asterik ; yang itu murni kreasi translator kita lho…
    jadi ada ‘warna tersendiri’ yang muncul : LalaCinila DesainerGrapikix :p

  4. cinila says:

    hahah iya dewaix … aku jg nggak ngomong terjemahan yang ini jelek kok, covernya yang gimanaaa gitu ;p

    Kayaknya sih terjemahan yang bagus tuh terjemahan yang nggak bikin kita mencari-cari text aslinya ya?? Just my two cents..

    @dean : aku nggak tau sih ada atau enggak di Gramedia, tapi mungkin Social Agency ada kali ya… aku sih kemarin pesen langsung dari Banana Publishing-nya..

  5. fahmi jelek says:

    whaaa… menarik! ini buku beredar di gramedia/gunung agung nggak ya? (terutama yg bhs inggris). harganya berapa?

  6. okke says:

    sama kayak aku baca 1984-nya Orwell sama the Motorcycle diaries-nya Che yang versi Indonesia.. gak dapet serunya…

  7. kus says:

    bisa dibilang textbook nya para pecabut nyawa ho ho ho

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>