Cinila’s Personal Playground - the bloody journal

Larasati

Larasati, tulisan yang membawa kita mengalami dan menyelami sejarah pascaproklamasi kemerdekaan Indonesia. Masa Revolusi mereka menyebutnya. Pramoedya Ananta Toer, beliau yang menulisnya. Awalnya saya pikir saya akan pusing membacanya, karena tiba-tiba harus terjun langsung membayangkan situasi pergolakan tahun 1945 yang tentu saja tak pernah benar-benar terbayangkan buat saya, tapi ternyata setelah agak “panas” saya tidak bisa berhenti membaca sampai selesai.

Sampul buku LarasatiLarasati (Ara), seorang bintang film, seorang wanita, dan pendukung revolusi. Pernahkah membayangkan perjuangan yang dilakukan oleh seniman semasa perang kemerdekaan? Seorang wanita pula? Ara merasa dirinya sebagai pejuang, berjuang dengan caranya sendiri. Setia pada republik, tidak mau dia berkhianat dengan bermain dalam film-film propaganda NICA.

Ceritanya berawal dari perjalanan Ara dari Jogja yang saat itu adalah ibukota Indonesia, ke daerah pendudukan Sekutu dan Belanda, Jakarta. Ara membayangkan akan jadi bintang film yang lebih besar di Jakarta, dan dia berjanji dalam hati akan bermain film-film yang ikut menggempur penjajahan.

Sesampai di Bekasi, kereta yang dia tumpangi dihentikan dan digeledah oleh tentara Belanda. Dilihatnya moncong meriam yang tidak diberangus, dibayangkannya meriam-meriam itu baru saja memuntahkan isinya ke daerah yang baru saja dilewatinya. Di Bekasi itu Ara bertemu dengan oportunis, orang Indonesia yang hanya memikirkan dirinya sendiri, Mardjohan. Dulunya adalah announcer di jaman Jepang dan terima kasih dia pada kekacauan saat itu dia menjadi sutradara. Mardjohan menawarkan Ara membintangi filmnya, film propaganda untuk Belanda tentu saja.

Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak! Negara pun tidak! Rakyat apa lagi! Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain.

Begitulah Ara bertekad menolak dimanfaatkan Mardjohan, meskipun kemudian hal itu membawanya berkunjung ke penjara dan harus menyaksikan seorang tahanan meninggal dalam penjara dengan keadaan yang mengenaskan. Untunglah sopir yang meskipun berseragam Nica, tetapi ternyata pejuang yang baru datang dari Papua, menyelamatkannya dan mengantarkan Ara ke rumah ibunya, Lasmidjah. Dimana kemudian Martabat, sang sopir itu, dicurigai oleh orang-orang kampung karena seragamnya. Untuk membuktikan mereka bukan Nica, akhirnya Ara dan Martabat ikut dalam pertempuran gerilya yang dilakukan pemuda-pemuda di kampung itu. Pertempuran berdarah yang pertama untuk Ara, dimana akhirnya pemimpin gerilya harus meninggal terkena serpihan granat yang dilemparnya sendiri.

Perjuangan dan semangat Ara hampir luluh lantak ketika Jogja jatuh akibat agresi militer Belanda dan dirinya ditawan oleh seorang Arab, dijadikan budak sex. Jusman namanya, dia adalah seniman gambus dimana ibunya, Lasmidjah bekerja sebagai pembantu. Jusman jatuh cinta pada Ara, tapi Ara hanya cinta pada revolusi. Ara sangat membenci Jusman yang mata-mata Belanda, dan baginya orang sang Arab itu hanya menginginkan duit di Indonesia, sama sekali tidak mengerti politik. Ara memanfaatkan rasa cinta Jusman untuk membelikannya radio, dan juga koran-koran. Ara ingin tetap mengikuti perkembangan revolusi.

Perang gerilya tidak berhenti ternyata, Belanda semakin terpojok. Mata-mata Belanda seperti Jusman, mulai ketakutan, dilamarnya Ara menjadi istri sekaligus pikirnya itu akan menyelamatkan jiwanya. Saat itu Ara sedang dirawat di rumah sakit akibat pendarahan yang dialaminya, dan dokter menyarankan untuk tidak berhubungan selama tiga bulan. Terlalu lama buat Jusman menunggu 3 bulan akhirnya lari ke Singapura.

Saat itu 27 Desember 1949 tentunya ketika Konferensi Meja Bundar ditandatangani. Ditulis dalam cerita ini, banyak pendapat dan kritik tentang KMB, kenapa berkompromi dengan musuh, sebagai taktik? atau strategi? atau sudah kehilangan jiwa revolusioner?

Halaman 174 dan 175 dalam buku cetakan kedua penerbit Lentera Dipantara ini, adalah bagian yang mengharukan. Sampai nyeseg bacanya, membayangkan suasana ketika kemudian Tentara Nasional Indonesia mengambil alih Jakarta, dan Soekarno kembali ke Jakarta. Bukan main Pramoedya menulisnya. Bayangkan bagaimana leganya semua orang ketika lepas dari penjajahan 300 tahun lebih, bagaimana kegembiraan yang meluap-luap tumpah ruah di jalan. Upacara dan lagu-lagu perjuangan Indonesia berkumandang tanpa takut-takut lagi. Bayangkan, bayangkan !!

Yang belum pernah membaca Pramoedya, mungkin buku ini bisa membuat kita langsung menyukainya, menyukai pikiran-pikirannya tentang perjuangan.

Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.
(Pramoedya Ananta Toer)

Note:
Baca juga halaman yang didedikasikan untuk Pram ini.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

14 Responses to “Larasati”

  1. bahtiar says:

    mmm … laras-ati… menarik …. :)

  2. gre says:

    :) saya baru sekali baca bukunya pram. ‘midah’ judulnya. katanya sih paling ringan diantara buku pram yang lain.

    jadi seberat apa ya buku-buku pram?

  3. bnak al says:

    Larasati ini begitu terkenal ya ?
    Kalau nggak salah juga dinyayiin sama Dewa deh, yg text-nya begini,”Larasati… berkelana iris janji……… kau lah satu2nya yang ternyata mengerti aku…”

  4. nien says:

    yupe, sekali membaca jadi ngga bisa berhenti…

    btw, thx lho, jadi inget buat nagih novel ini yang udah lama bgt dipinjem ama temen :p

  5. Jauhari says:

    Komen dulu baca BELAKANGAN :D

  6. Cinila says:

    @gre : wah aku malah blum baca yang itu, tapi yang ini, Larasati, juga nggak berat kok mas…

  7. nanang says:

    Larasati…. laguna dewa 19 :D

  8. no! says:

    la, nanti kalo udah baca pram yang lain cerita ya.. :)

  9. killy says:

    larasati … dulu kebayang ce yang punya nama larasati pasti cantik banget :). kpana ke pwt lagi tapi yang agak lama yah jangan seperti kemaren … hehehe. aku dah up lagi la, maen2 yah ;)

  10. Yo says:

    Halo Lala Cinila, salam kenal. Halo semua, ada yang tahu nomor kontak penerbit Lentera Dipantara?

  11. Cinila says:

    Halo Yo, salam kenal juga…
    Ini alamat Lentera Dipantara
    Multi Karya II/26 Utan Kayu, Jakarta Timur,
    Indonesia 13120
    Telp./Faks. +62-21-8509793
    lenteradipantara[at]yahoo[dot]com

  12. Diah Parahita says:

    emailnya lentera dipantara koq mental sich..bener gak yach?

  13. cinila says:

    @Diah Parahita : saya kurang tau juga, alamat itu yang tertera di bukunya. Mungkin cobain langsung telfon saja.

  14. Ana Fauziyah says:

    hai, salam kenal. aq Ana. aq ngunduh artikelmu tentang novel larasati karya pramoedya, oia ni buat bahan bacaan bwt bikin makalah. bukan buat ngejiplak ya… karena buah pikiran tiap orang wajib dihormati. kalopun nanti ada beberapa kalimat yang ikutan nyempil, aq cantumin sumbernya.. terimakash buanyak yoa..

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>