Cinila’s Personal Playground - the bloody journal

Mbak Yayuk

Namanya Yayuk, aku memanggilnya mbak Yayuk. Perempuan, single. Dan mbak Yayuk memanggilku dengan embel-embel mbak pula, padahal mbak Yayuk 10 tahun lebih tua dibandingkan aku. Jadi kami saling memanggil mbak, hahaha lucu ya orang Jawa! Bisa panjang deh kalau mau membahas soal panggilan mbak diantara orang-orang Jawa ini. Lain kali keknya lucu juga tuh ditulis. Tapi kali ini aku mau cerita soal mbak Yayuk saja, pahlawanku di suatu sore.

Hari itu lumayan panjang, kerjaan di kantor lumayan banyak tapi sejujurnya rutinitas yang “membunuh”ku itu memunculkan bosan. Jam 2, jam 3 aduuh rasanya lama banget. Jam 4 sore rasanya udah pingin jalan kemana gitu biar nggak bosen. Di Jogja, masalah paling susah jika tak punya kendaraan pribadi kek saya, adalah boros di ongkos angkutan umum. Apalagi biskota beroperasi rata-rata hanya sampai jam 6 sore. Meskipun beberapa jalur yang ramai, seperti jalur 4 yang arahnya ke kawasan Malioboro, masih akan banyak kita temukan di jalan-jalan sampai jam 7 atau 8 malam.

Jam 5 lewat aku buru-buru keluar, takut kehabisan biskota jalur 7, satu-satunya jalur bis yang lewat daerah kantor. Aku memutuskan pergi ke arah bunderan UGM saja, sekalian beli kaos kaki buad si mas di Mirota Kampus. Aku memutuskan untuk sedikit “berpetualang” hari itu. :D My kind of adventure, haha… jalan-jalan belanja. Nggak ding becanda… aku cuma beli kaos kaki dua pasang, buatku dan buat si mas. Hari itu ternyata menjelang hari pertama masuk sekolah setelah liburan akhir tahun, kebayang kan di Mirota Kampus anak-anak beli sepatu baru, seragam baru, tas baru, termasuk juga kaos kaki baru… kayak saya… haha… It was fun, menyenangkan juga, menghapus sedikit bosan, lihat anak-anak dan orang tua belanja keperluan sekolah mereka.

Jam 6 lewat 15 menit keluar dari Mirota. Aku pingin naik jalur 7 lagi untuk balik ke rumah. Jam segitu kemungkinan ada jalur 7 lewat Mirota memang kecil sekali. Aku berdiri sekitar 10 menit, bapak becak di ujung jalan menghampiriku dan mulai bertanya,
“Mau kemana mbak?,” aku melihatnya sekilas dan ngomong dengan bahasa Jawa halus “Mboten Pak“. Maksudnya sih supaya si bapak tidak melanjutkan penawarannya lagi, karena kasian banget kalo bapak becaknya anterin aku sampe rumah, esok hari bisa-bisa si bapak nggak bisa narik lagi. Tapi ternyata si bapak pantang menyerah, turun dari sadel dan mulai bertanya lagi, “Mbaknya mo kemana toh mbak? Saya anterin saja naik becak.”
“Enggak kok pak, jauh rumah saya.”
“Lha mo naik jalur brapa? Wes ra ono bis meneh yah mene ikiy…(Sudah nggak ada bis lagi jam segini).”
Si bapak becak aku tinggalin jalan, rada bete juga denger nada terakhir kalimatnya yang agak kasar. Eh ternyata si bapak becak masih mengikuti jalan di belakang. Sebeeelll banget rasanya aku kan dah bilang nggak mungkin naik becak, masalah aku mo naik bis jalur brapa itu terserah aku kan?
“Dah habis mbak bis-nya jam segini….”
Ya ampuuun, apa sih maunya si bapak ini. Aku juga tahu kemungkinan kecil dapet biskota, aku toh bisa naik taxi tapi nggak mungkin naik becak dia. Dan lagi aku bukan anak yang baru datang ke Jogja, sudah hampir 10 tahun di Jogja.
“Iya pak, ya nanti kalo nggak ada bis saya naik taxi aja…” aku pingin dia berhenti ngikutin. Aku berhenti jalan dan mencoba mengajak bicara seorang ibu yang baru menggelar dagangan di trotoar. Ternyata si bapak becak masih di situ. Haduuh what’s wrong with him. Nah waktu itulah mbak Yayuk datang. Tentu saja aku belum tahu namanya waktu itu.
“Jalur 15 masih ada kan ya jam segini?,” mbak Yayuk mau naik jalur 15 waktu itu.
“Ooowh masih banyak mbak kalo 15,” aku tahu jalur 15 salah satu jalur yang rame.
“Mbak-nya mo kemana?,” mbak Yayuk nanya.
“Ke daerah JEC mbak…”
“Wah kok ngadhang nang kene mbak? Numpak jalur 4 wae mbak…
“….”
“Kan bisa turun di Gedongkuning…, ya sama saya aja yuk, tak anterin… aku tak numpak jalur 4 wae trus lagi numpak jalur 15… ayuk mbak, rapopo, kasian ntar mbak-nya sendirian…”
“Wah, mbak saya nggak papa kok, bener juga sih naik jalur 4… tapi nggak perlu dianterin lah…”
Tapi mbak Yayuk ternyata sungguh-sungguh dengan tawarannya. Dan aku sangat lega melangkah ringan balik ke Mirota lagi, kali ini di sebelah Barat-nya, jalur 4 lewat situ. Dan si bapak becak tak lagi mengikuti. :)

Dalam bis, mbak Yayuk mulai bercerita, tentang kost tempat dia tinggal, tentang “pelariannya” dari rumah, tentang cowo yang tak berhenti mengejar dia, dan tentang penyakit ginjal yang menyerangnya. Tentang 500 ribu yang harus dia sediakan tiap bulan untuk berobat ke sinsei. Tipikal orang Jogja kalo kata si mas. 10 menit saja berada di biskota dan diajakin ngobrol basa-basi, tapi tahu-tahu bisa tahu sejarah keluarga tujuh turunan. Haha… :P

Aku ingin membayar ongkos biskota berdua dengan mbak Yayuk waktu itu, tapi dia menolaknya dengan halus.
“Ini aku ada kok mbak, nggak mau aku minta-minta, nanti bikin males…”. Ah, bikin trenyuh saja, sebenernya saya cuma mau berterima kasih, tapi mbak Yayuk seperti mengatakan dia punya harga diri dan aku harus menghormatinya.

Semuanya dia ceritakan dengan nada yang bersemangat, meskipun tentang sedihnya dia kehilangan pekerjaan, ketika sakit dan semua sudah menyerah, dia kelihatan tetap bersemangat. Suaranya lantang dan tegas.

“Aku tiap hari keliling, terima panggilan mbak… creambath, body massage, lulur, lha sejak sakit trus keluar dari salon, aku ya harus usaha sendiri sekarang. Ngelamar kerjaan juga susah mbak, apalagi habis gempa kemarin… ”
“Brapa mbak Yayuk kalo creambath?”
“Lima belas ribu, kalo lulur 20 ribu, wah enak lho mbak pijetanku… facial juga bisa, pijet buad ngencengin payudara juga bisa, waah bisa kenceng lho mbak… tenin…”
Aku jadi tersenyum waktu itu, agak kecut juga… aku yakin nggak tiap hari dia dapat panggilan, sementara kalo ingin tetap hidup dia harus terapi ke sinsei dan manghabiskan 500 ribu per bulan. Nggak masuk akal. Bagaimana dia bisa makan? Pun mbak Yayuk tak mau meminta-minta. Dan mbak Yayuk masih bersedia mengantarku naik jalur 4 sementara dia mestinya naik jalur 15. Dia rela naik bis dua kali demi aku. Bayangin, padahal dia sama sekali tidak kenal siapa aku.

Aku jadi bersyukur hari itu ada bapak becak yang pantang menyerah menawarkan jasanya karena dari situ aku jadi kenal mbak Yayuk. Aku bersyukur hari itu naik biskota dan bukan naik taxi, karena dari situ aku tahu ada orang seperti mbak Yayuk. Mbak Yayuk yang tetap semangat meskipun penyakit menggerogotinya, mbak Yayuk yang “berani” menolongku meskipun dengan keterbatasannya. Mbak Yayuk pahlawanku hari itu.

Tadi pagi aku lihat Dorce Show dikit, seorang veteran membacakan puisi Karawang Bekasi yang terkenal itu, dan Samuel (AFI junior kalo nggak salah) mengiringi dengan lagu. Duh tersentuh banget jadi pingin nangiiss. Aku yakin dulu Indonesia bisa merdeka karena bersatu, merasa senasib seperjuangan, dan rela menolong satu sama lain tanpa membedakan suku, agama, dan golongan. Nggak mungkin enggak. Jadi mestinya belajar dari sejarah, ngapain sekarang banyak yang menonjolkan dirinyalah yang terbaik, terbenar, dan akibatnya hanya perpecahan. Perpecahan hanya melemahkan bangsa, bukan memperkuat kan? Ah mestinya kita belajar lebih banyak dari sejarah. Benar Chairil Anwar, kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa. Jangan biarkan semua sia-sia !! (Ini moga-moga semangatku yang kek begini nggak cuma pas 17 Agustus doang neh.. Hihihi)

Ah tapi aku mau mulai dari yang kecil saja, menjadi seperti mbak Yayuk, yang pantang menyerah dan tak segan menolong orang yang bahkan belum dikenalnya. (Ya semoga bisa..) Cita-cita ku paling dekat, memanggil salon mbak Yayuk ke rumah. Sapa mau ikut luluran??? :P

PS.
Selamat hari merdeka, Indonesia.
Semoga semangat dan cita-cita para pejuang dahulu tak berhenti sampai di sini.

12 Responses to “Mbak Yayuk”

  1. -tikabanget- says:

    heeii..
    aku baru inget kalo lala yang punya blog ini tuh lala yang aku kenal di TNL..
    iya kan??

    halow..
    mesti lupa..
    aku temennya criss..
    dulu kita juga ketemuan di sms gratisannya criss ituuuhhhh..
    hehhee..

  2. Cinila says:

    Aku nggak lupa kok Tik, tika yang lupa sama aku hiks hiks ….

  3. linae says:

    wah…kalo deket aku mau laa, dulu 2 minggu sekali aku creambath, pengen juga luluran deh…huhuhu… disini ga ada gituan :D

  4. poetra says:

    mbak ayu punya adek ndak mbak? hihihi
    *tetep usaha*

    aku juga pengen creambath.. gerah disinihh..
    *sambil menyibakkan rambut dengan gemulai*

    mba lalaaaa.. maen ke bandungnya kapaan? ;)

  5. mufam says:

    La kalo aku masih punya kesempatan ke Yk. Kasih no telpunnya mbak Yayuk ya….:)
    Rasanya aku mau manggil buat perawatan di hotel.
    Kalo pake salon hotel kan muuuaahal la…he3x.

  6. Cinila says:

    @mufam : Yoi mbak, beres deh… :D

  7. ciphie says:

    lalaaaaaaaaaaaa.. aku ikut lulurannyaaaaaa

  8. criss says:

    lala….. gimana kabarmu?? waduh kangen nih… dah lama gak ketemu :( kita kayak tinggal beda kota aja ya… hikksss hikss….

    eh mbak lala entar kalo ngundang si mbak yayuk ajak mas criss ya… entar aku pasti datang… hahahhahaha

  9. godote says:

    hehe.. kejadiannya mirip2 ama waktu kamasku ke rumahku sini..
    tapi kamasku bukan dioyak2 karo tk becak. dia ditelantarkan oleh bus damri..
    padahal kamasku belum pernah pergi ke tangerang..
    untung dibantuin ama mas2 cakep.. halah

  10. ferry says:

    Selamat Pagi…

    Semoga pagi ini masih seindah dan selembut tulisan Mbak . Saya suka dengan gaya bahasa tulisannya.
    Semoga saya bisa belajarbanyak dari gaya tulisan Mbak, Maklum lagi mulai belajar menulis (buku/artikel).
    Semoga ide kreatif tetap lahir dari tulisan Mbak.

    Fey.

  11. jaka says:

    aku harap bisa punya teman / pasangan di sini . jangan ragu email ke jakasiahaan@yahoo.com atau sms ke 085820528351

  12. yayuk says:

    saat aku baca tulisan ini aku baru sadar kalau nama yayuk itu tidak kampungan sebelum baca ini aku malu punya nama yayuk krn setiap apsen di kampus temen 2 aku selalu tertawa tapi sekarang aku bangga krn nama yayuk ternyata banyak orong hebat dr yayuk bsi

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>