Edward dan Tuhan, judul cerpen karya Milan Kundera. Cerpen yang diambil dari Laughable Loves, sebuah buku kumpulan cerpen karya Kundera. Banana Publisher menyatukannya dengan tiga cerpen karya penulis lain (Gabriel Garcia Marquez, Alice Munro, dan Naoya Shiga) menjadi antologi dengan dibubuhi “Kisah-kisah Cinta Ganjil” dibelakangnya.
Kisah cinta yang ganjil? Ummh kisah cinta siapa yang nggak ganjil?
Hehe but yes this story is laughable.
Edward dan Tuhan, bercerita tentang kisah cinta Edward yang komunis atheis dan Alice seorang Kristen fanatik (?). Yup bisa dibayangkan. Diceritakan, waktu itu Cheko sedang dikuasi oleh rezim komunis sekitar tahun 1960-an. Edward sebagai guru tentunya harus bisa dijadikan panutan, harus seorang yang “benar” (tentunya waktu itu adalah benar menjadi komunis, sementara agama dianggap sebagai budaya yang “kuno”, kepercayaan pada Tuhan adalah milik abad pertengahan begitu kata Edward), dan ketika Edward jatuh cinta dengan Alice, dia pun melakukan segala cara untuk mendapatkan hatinya (atau tubuhnya lebih tepatnya). Alice patuh pada ketentuan Tuhan yang melarang seks diluar pernikahan.
Pura-pura percaya tentang konsep ketuhanan di depan Alice, mengikuti misa ke gereja, semata untuk mencari senjata untuk “melawan” Alice. Misalnya, suatu hari Edward berkata pada Alice seperti ini “Alice sayang, jika kita mencintai Tuhan, tak ada sesuatupun yang terlarang. Jika kita mendambakan sesuatu, itu karena keinginanNya. Kristus tak menginginkan apa pun kecuali kita semua dalam cinta kasih.”
Hehe, I’ve told you, ceritanya lucu. Bahkan di sana juga ada pertanyaan Edward seperti sejauh mana Tuhan melarang perzinaan, bagaimana dengan berpegangan tangan, bagaimana dengan berciuman, dan seterusnya. Ummh sepertinya pertanyaan yang juga sering muncul di Agama lain juga, tapi enggak ini bukan sesi ceramah
Anyway, semenjak kedekatannya dengan Alice, Edward tidak bisa menyembunyikan kegiatan keagamaan yang dilakukannya bersama Alice di lingkungan kerja dia, sekolah tempat dia mengajar. Kepala sekolah pun mengadilinya, dan Edward memerlukan pekerjaannya untuk hidup meskipun dia bukannya bahagia dengan pekerjaannya. Dia pun berbohong kepada kepala sekolahnya yang wanita setengah baya dan kesepian, alih-alih mengatakan bahwa dia pura-pura percaya pada Tuhan untuk mendapatkan Alice, tapi justru mengatakan dia memang percaya pada Tuhan. “… Aku mengenali bahwa keyakinan terhadap Tuhan akan mengantar kita pada kegelapan. Aku paham bahwa akan lebih baik jika Ia tidak eksis. Namun, di dalam sini aku merasa bahwa dia eksis…”
Singkat cerita pengadilan itu membawanya pada dua kenyataan, tidak dipecat namun harus melewatkan masa “pembinaan” dengan wanita paruh baya nan kesepian, dan kenyataan bahwa Alice menganggapnya sebagai seorang pahlawan atas sikapnya itu.
Kenyataan kedua membuat Alice “menyerah” dengan mudah. Namun justru membuat Edward merasa marah dan kecewa Alice telah begitu gampang mengkhianati Tuhan yang dulu begitu diagungkannya, dan bagaimana dengan dia, pasti akan lebih mudah bagi Alice untuk mengkhianati dirinya.
Kenyataan pertama, justru membuatnya melakukan hubungan yang menggairahkan. Hubungan yang awalnya sangat membuatnya merasa jijik dengan wanita yang terlalu tua untuknya.
Ganjil? Iyah weird. Kalau dipikirkan lagi cerita ini banyak berisi sindiran kepada orang yang sok moralis, munafik, sok selalu menyebut nama Tuhan tapi akhir-akhirnya melakukan dosa juga seperti Alice. Juga menyindir orang-orang memotong sebuah ayat untuk diartikan menurut kehendaknya sebagai pembenaran, seperti yang dilakukan Edward. Dan setidaknya orang-orang komunis Cheko waktu itu menghargai kejujuran dan menganggap bahwa seseorang yang keluar jalur bisa dibina kembali ke jalan yang benar. Hehe but I’m not a comunist anyway. Milan Kundera ternyata orang yang lucu dan sepertinya diperlukan hati dan pikiran yang terbuka untuk menyelami cerita Milan Kundera ini.












mb lala, thanks imelnya, moga aja masih bisa yah 555 (
wow.. cerita yang hebat mbak.. tepuk tangan. semoga mereka yang seperti ini dan yang itu bisa berpikir lebih jernih. Soalnya kita majemuk. heh?
Hehehe,
gue jadi teringat mantan gue-yang kbetulan juga fanatik-yang kbetulan juga melakukan ‘hal miring yang prinsipil’-dan itu langsung bikin gue memandang dia beda 180 derajat.Weird.
Ah, hanya kebetulan.
… dan cerita-cerita itu masih sangat sering terjadi di sekitar kita bukan? dan pada diri kita sendiri..
makasihhhh
wawawawa, mawu bukunyaa…beli dimana bukunyaaa….
he’eh bagus juga ya ceritanya, sperti sekarang ini banyak yang ngaku-ngaku fanatik tapi, huuuuuuu…..
ga bisa pegang omongan…..